Tiga minggu sebelum ujian sampai hari ini, saya mulai lagi sering ke masjid dan sedikit banyak mewarnai waktu dengan aktivitas di masjid.. saya sedang mengurus pengajian anak di masjid, ternyata saya memang menyukai dunia anak-anak.. hehe. sewaktu masih di ekspresi, saya tetap meluangkan waktu mengurus pengajian anak sebagai refreshing..
Saya mulai membuat perpustakaan anak, baik di masjid atau di langgar. Saya ingin masjid tidak saja identik dengan aktifitas ritual tetapi juga identik dengan belajar.. lumayan, anak-anak rata-rata sudah mau baca buku sampai beberapa hilang (hehe) biar tak sekadar kenal televisi dan PS.
Lomba anak-anak juga tidak identik denagn lomba sholat, adzan, menghafal surat tetapi juga lomba menulis dan membaca puisi.
tetapi akhir-akhir ini, saya sedikit gusar. Apa pasal? lagi-lagi saya bertemu dengan orang yang terlampau tekstual menghadapi teks agama, yang percaya saja pada isi teks selama itu buku dikarang ulama besar tanpa mencoba melihat pendapat lain yang berbeda. Kebanyakan orang-orang tekstual keras kepala, matanglah sudah..
Begini kisahnya, mulanya saya menjadwal materi hari ahad adalah materi bebas. Bisa menulis, bermain, bernyanyi, menonton film dan apa saja yang menyenangkan. Panitia remaja yang rata-rata masih abg ingin mengisi materi lewat menyanyi. Mereka puya bekal alat musik seperti gitar dan ketipung. Ku pikir bercanda, Edi, seseorang yang mengaku ingin menerapkan pola Islam (ala siapa?), bilang menyanyi tidak boleh. Itu disampaikannya pada Romi, panitia yang masih duduk kelas 2 SMP dan suka nge-band. Saya bilang, menyanyi itu boleh, ahad besok Romi saya bilang agar tetap tampil.
Satu hari setelahnya, Romi menyerahkan kertas, katanya titipan dari Edi untuk saya. Saya baca, ternyata dia menulis argumen-argumen mengapa menyanyi dihukumi haram, apalagi pakai gitar dan ketipung, saya mah cuma bisa cengengesan. "Gimana mbak", kata Romi seperti ikut gusar. "Ga papa, kalian tetap ngisi ya besok ahad." Saya penasaran juga dengan argumen Edi, saya memang pernah mendengar ada ulama yang mengharamkan, lalu saya tanya pada ibu. Ibu sedikit menjelaskan, nyanyi hukumnya mubah, berarti boleh asal tidak keluar kaidahlah. Tetapi saya masih juga penasaran dengan ayat dalam surat luqman yang ia pakai untuk menjustifikasi larangan menyanyi. saya buka tafsir maraghi yang kebetulan ibu mengkoleksi. Ternyata walah ternyata, itu surat memang mengindikasikan larangan menyanyi, tetapi asbabun nuzulnya bisa membuat kita lebih arif menyimpulkan hukum menyanyi.
Lain hari, saya melihat tempelan di papan pengumuman masjid. Kebetulan satu hari pasca ujian alias 3 hari puasa saya dapat mens, jadi saya tidak intens ke masjid kecuali sore. Saya dapati tiga lembar kertas ditempel memanjang berjudul "bahayanya perempuan bagi laki-laki" lalu satu lembar tulisan "hukum wanita tidak berjilbab".. waduw.. serem amit itu tulisan.. isinya seputar neraka.. yang terbayang dalam pikiran saya cuma para ulama klasik yang memang menempatkan perempuan sangat-sangat terpinggir.. layaknya bakteri yang siap merusak kekebalan tubuh manusia... rada reaktif juga nih, kontan saya copot tu kertas dan saya pindahin ke ruang sekretrariat..
waduw dah sore, saya terlalu lama di warnet.. musti hengkang.. bersambung ya..
Selasa, 15 Januari 2008
Teks Agama
Diposting oleh
hajar
di
03.12
0
komentar
Label: Persona
Bahasa (katanya) ilmiah skripsi
lama tidak menulis dengan bebas.. karena apa? karena saya sedang dilumat menulis skripsi. penulisan skripsi yang katanya musti menggunakan ejaan yang disempurnakan, tata tulis, juga bahasa yang ilmiah. Apa kriteria ilmiah, metode penelitian bukan? mengapa tulisan saya tiba-tiba dikatakan tidak ilmiah hanya karena bahasanya dianggap tidak ilmiah. pantas, karya ilmiah tak banyak dibaca orang (kecuali mahasiswa yang sedang mencontek bahasan untuk tugas dan mahasiswa yang sedang akan skripsi).
Skripsi banyak teronggrok di rak-rak perpustakaan, mulai perpustakaan jurusan, fakultas sampai perpus univ. jangan-jangan salah satu faktornya ialah karena skripsi tak enak dibaca. orang yang mengaku sok akademis berdalih, "yah.. karena itu konsumsi orang akademis." Alah, apa seh guna bahasa? fungsi esensial bahasa menjadi tidak maksimal karena terkungkung aturan bahasa yang dikategorikan ilmiah. walah-walah..
Diposting oleh
hajar
di
02.46
1 komentar
Label: Persona
Pre Exam
lama sekali saya tak berkunjung ke warnet, salah satunya akibat persiapan ujian skripsi, jum'at, 14 september 2007. buat seorang mahasiswi yang tercatat sudah tinggal hampir 6 setengah tahun di kampus.. tidak ada kata paling tepat selain, "akhirnya..". Bbukan saja saya yang lega, tetapi juga keluarga, teman dan yang pasti adek-adek kelas yang terlanjur bosan menemaniku mendalami materi alias ngulang. hehe..
selesai ujian bukan berarti selesai urusan, ada revisi dan tetek bengek lainnya yang pemanasannya sudah ku lalui sebelum ujian.. mulai bersabar menghadapi birokrasi adm kuliah yang ribet dan menjadi satu hal yang tidak aku sukai sampai bertahan tak larut mendebat dosen yang tidak maksimal membimbing (apalagi hasrat selesai kuliah tak bisa ditawar lagi) juga pengajar lain yang suka ribut termasuk soal etika mahasiswa.
menjadi sarjana bukan sesuatu yang layak dibanggakan. Buat aku sendiri, ini sekadar prinsip agar terbiasa menuntaskan sesuatu, kedua, perkara orang tua apalagi keinginan ibu yang tak kuasa ku tolak. Barangkali ada beberapa alasan lain sehingga menuntaskan kuliah adalah sebuah pilihan saja, bukan kewajiban..
sekarang saya musti berhijrah ke uin (saya lebih suka menyebutnya IAIN) untuk menuntaskan studi di tafsir hadis, program studi yang saya tidak punya kegandrungan blas. Semua seperti air mengalir sehingga saya musti terdampar di sana. meski ada hikmah terutama ini saya rasakan saat saya balik ke masjid bertemu orang-orang yang memahami teks agama secara tekstual, tanpa pernah berfikir untuk lebih kritis apalagi terhadap para ulama pembuat teks..
Diposting oleh
hajar
di
02.36
0
komentar
Label: Persona