sudah tiga hari lebih, aku selesai menuliskan Soewarni. dia kakak Soewarsih Djojopoespito, penulis novel "manusia bebas".
Beberapa kali aku menulis tentang perempuan masa pergerakan, pasti tidak luput menulis kata poligami. apalagi saat menuliskan Soewarni.
Ia paling getol menentang poligami sampai-sampai perlawanannya pada perilaku lelaki beristri lebih dari satu itu, saya jadikan fokus utama. Dia juga perempuan yang bertikai dengan Ratna Sari, gara-gara aktivis Permi itu berapi-api di atas podium seakan menghalalkan poligami. Ia juga terkenal tajam menyindir tingkah lelaki, dalam forum itu saja ia mengatai laki-laki seperti ayam jago yang suka mengumpulkan perempuan.
Ee.. para lelaki yang duduk di belakang malah menanggapi dengan berseru pelan "kukuruyuk". Tentu saja, makin panaslah Soewarni.. (cerita tentang ini bisa didapatkan dalam biografi Maria Ulfah Santoso maupun Sujatin Kartowijono, atau cek langsung saja di koran-koran tahun 1935an. kata-kata "Lelaki seperti ayam jago" bahkan dipilih oleh Gadis Rasid menjadi sub judul dalam biografi Maria Ulfah Santoso yang ia tulis.
Soewarni juga perempuan pendiri organisasi Istri Sedar yang dikenal sebagai organisasi perempuan radikal awal tahun 1930-an, sayang tulisan tentang Soewarni atau Istri Sedar tidak banyak ditulis. Saya sendiri mengumpulkan dari tulisan yang tercecer, majalah Sedar (1930-an), dan tulisan E. Du Perron yang sempat datang pada konggres Istri Sedar. .
Tetapi begitu tulisan tuntas, saya puas, karena menulis tentang seseorang yang jarang tertulis..
Selasa, 15 Januari 2008
Soewarni
Diposting oleh
hajar
di
03.02
2
komentar
Label: Riwajat Perempoean
S(urastri) K(arma) Trimurti
sore ini tulisan tentang Surastri Karma Trimurti alias SK Trimurti selesai sudah.
Perempuan kelahiran boyolali ini telah merasai kejahatan fisik utawa kejahatan mental yang diberikan penjara secara cuma-cuma. Tubuhnya pernah ringsek disiksa kejam oleh Nedaci, seorang kenpeitai.
Tetapi di penjara Jurnatan, Semarang, tempat penyiksaan Trimurti berlangsung, Nedaci justru menyuguhkan sisi lainnya yang paling manusiawi. Karena di tempat itu ia berterus terang bahwa ia mencintai Sukapti, adik Trimurti.
Tetapi Trimurti juga berhak berterus terang tntg rasa yang paling manusiawi dari seorang tahanan yang dipukul sampai tak lagi mampu merasai sakit dari tubuhnya yang lebam. Tentu saja ia tolak mentah permintaan Nedaci untuk mengawini sah adiknya. Karena mengamini lamaran berarti meruntuhnya harga diri Trimurti, perangkat diri yang tersisa dari seorang tawanan.
S.K. Trimurti memang tak hanya dikenal sebagai tawanan, tetapi juga seorang jurnalis yang membuatnya berkenalan untuk kali pertama dengan terali besi. Ia sempat juga menjadi menteri perburuhan kabinet pimpinan perdana menteri Amir Syarifuddin. Sayang, usia kementriannya hanya berlaku tujuh bulan. karena Amir harus serahkan mandat pada bung Karno, yang menunjuk setelahnya seorang Hatta sebagai formatir kabinet.
Tetapi hikayat Trimurti dalam tahanan lebih "basah" untuk ditulis. Terakhir kali ia meringkuk dalam tahanan, gara-gara nasib apesnya yang dituding terlibat dalam peristiwa Madiun. ia sempat ditaruh dalam ruang, dan tidur di atas meja tulis kecil. yang membuatnya tidak bisa tidur, bukan saja perkara kecilnya meja, tetapi juga ujung bayonet prajurit yang sering mampir di kamarnya dan ditudingkan tepat di depan mukanya, sembari dikatai penghianatlah, atau sesekali diludahi meski tak mengenai mukanya.
Trimurti memang tak saja harus mendekam dalam bui selama masa kolonial, entah itu Belanda utawa Jepang. Tetapi ia harus pula meringkuk dalam penjara sesudah kemerdekaan diproklamasikan, momen paling historis kepunyaan negeri ini, yang ia tunggu dengan jantung berdegup. Trimurti tidak saja menunggu, tapi ia juga menyaksikannya dari pegangsaan timur no 56..
Diposting oleh
hajar
di
02.56
0
komentar
Label: Riwajat Perempoean