Jumat, 04 April 2008

Sekaten edisi 2

Setelah semalam mengunjungi sekaten, esok siangnya, tanpa sengaja, saya menemukan corat-coret isi surat kabar Hindia Baroe tertanggal 17 Agustus 1925.

Tulisan ini saya cari-cari sewaktu saya menulis tentang sekaten babak pertama. Saya akan sedikit menulis sari pati tulisan itu plus mengutip langsung beberapa kalimat,
Sekaten telah bertukar sifat, tadinya dimaksudkan untuk menghormati kemuliaan hari lahir nabi atau berkaitan dengan perkara agama, kini sekaten tak ubahnya pasar malam biasa layaknya pasar Gambir yang diadakan juga sekali dalam setahun di Batavia.
Tahun itu, rencananya pemerintah akan memagar ¾ alun-alun dengan gedek alias dinding yang terbuat dari anyaman bamboo. Maka toko-toko dan tontonan yang memakai tempat lebih dari 3 elo persegi, mesti memakai tempat di dalam tutupan dengan membayar sewa tanah atau sewa pondokan (stan), atau juga panggungnya. Dan bukan saja penyewa stan yang ditarik uang, tetapi juga para pengunjung harus membayar uang masuk sebesar 5 sen. Atas dasar itu juga, sang penulis lantas membuat analogi yang cerkas, “Pasar Gambir pindah Jogja”.
“Sifat yang demikian itu persis sifat pasar Gambir di Betawi itu, jadi boleh penulis sebut pasar Gambir pindah Jogja.”
Penulis seakan terheran-heran, “pemerintah Jogja akan mengubah dasar dan sifat keramaian sekaten itu dengan tidak mengingati bahwa keramaian itu kepunyaan orang umum di Jogja, baikpun orang kota maupun orang desa. Rupanya hak itu akan digagahi oleh pemerintah Jogja yang berarti mencabut hak orang banyak (hak keramaian). Yang dikuatiri adalah pikiran dan perasaan orang desa, karena mereka pergi ke alun-alun untuk mengambil berkah dari sekaten, dan melihat keramaian sekaten juga tontonan di alun-alun, yang mereka merasa diadakan oleh sinuhun dan itu sebagai kemurahan sinuhun”.
Semalam, saya bersama adik lelaki alias si bungsu, juga ponakan saya yang mintanya dipanggil adik itu, akhirnya pergi juga ke sekaten. Kami sengaja berangkat tak memakai motor, selain alasan hujan, juga karena ingin mencobai bus transJogja. Kami turun di halte Vrederbeurgh, menyusuri jalanan nol kilometer.
Jogja, tetap saja manis juga romantis kalau malam begini, meski hujan turun. Sepintas, sekaten tetap saja seperti dahulu, berjejer penjual berondong, aromanis, tahu petis, bolang-baling, dan tiba-tiba adik saya menyeletuk, “mbak, itu lho wayangnya.” Saya menoleh, seorang lelaki tua sedang mengatur banyak wayang di atas kain putih, saya melihat ada gareng juga petruk, tapi saya terus berlalu.
Sebelum berangkat, di meja makan, ayah memang sempat mengenang, kalau dahulu, Fais, adik saya, tidak akan pulang dari sekaten sebelum membeli wayang-wayangan. Tadinya, saya penasaran, karena selama ini mata saya tak jeli menemukan penjual wayang di sekaten, sampai kemudian saya berniat membeli untuk menambah hiasan kamar yang baru saja saya tata. “mosok dari dulu cuma caping hiasan kamar yang nyentrik”, tapi malam itu niatan saya terbatalkan.
Kalau ponakan saya ini, langganan main ombak, yakni salah satu jenis permainan yang ditawarkan di pasar malam, setidaknya selain rumah hantu, permainan ini lumayan seru, karena pengunjung yang duduk di kursi dari papan yang disusun melingkar dan mengambang, bakal digoyang-goyang ke atas maupun ke bawah seperti naik kapal lantas digoyang ombak.
Tapi saya paling tak suka berlama-lama di arena permainan, tak lama kami sudah berlari kecil memasuki kawasan paling ramai di 7 hari terakhir perayaan sekaten, yakni depan masjid gede.
Hujan mengguyur Jogja makin deras, saya lihat para penjual telor merah yang ditusukkan (khas sekaten) tak lagi berjejalan di sekitaran depan masjid besar sebagaimana biasa, karena beberapa perempuan tua penjual telur dan sirih mesti menyingkir ke pinggir, sekadar berteduh.
Sengaja saya memilih warung nasi gurih tepat di depan masjd, agar bisa menyaksikan kerumunan warga menonton gamelan, juga orang-orang yang memenuhi kursi di tempat berlangsungnya ceramah yang dibawakan oleh seorang perempuan (Aisyiyah), pada mimbar yang diletakkan di bangunan sekitar pintu masuk kawasan masjid besar sebelah timur.
Tapi kali ini, saya datang dengan rasa dan pikiran yang berbeda dari tahun lalu. Muasalnya adalah hasil pembacaan saya pada Koran tua 1925, yang memuat kesibukan Muhammadiyah termasuk Aisyiyah saat berlangsungnya perayaan sekaten. Dan salah satu yang diungkapkan ialah perihal ceramah oleh muballighoh Aisyiyah, yang sampai kini berlangsung, dan tepat sejauh mata saya memandang. Sayangnya, jam belum menunjuk pukul 20.00, sehingga ceramah belum juga dimulai, padahal hujan makin lebat, dan saya mesti kembali selekasnya.
Gamelan mulai ditabuh, ceramah mulai dibuka, tetapi saya mesti juga pulang, saya sempatkan membeli telur barang 3 butir, plus daun sirih dan sirih kering yang biasa digunakan untuk menyirih, dengan bunga kanthil di ujungnya. “Ini berkah sekaten mas,” perempuan tua penjual menerangkan, “selain telur, tambah sirih ya mas, nanti bunga kanthilnya disimpan di dompet biar rezeki nambah, kalau masih sekolah, bunganya taruh saja di selipan buku, biar pinter”, senyum kami makin lebar dari sebelumnya, “ya, bu, beli 2 ya, (mesti kami tak tahu bakal diapakan daun sirih juga bunga kanthil itu nantinya, saya kuatir barang itu bakal berakhir di plastic hitam dan ujung-ujungnya tempat sampah).
Perempuan penjual lain lewat, “wah mbah, payu iki”, si mbok menimpali, “tapi hujan je”, perempuan penjual yang lewat balik membalas, “tapi laku tho,” Lantas kata si mbok, “iya, syukur hujan ya,” Saya cuma mbatin, orang Jawa itu, pancen paling bisa kalau disarankan menerima dan mensyukuri hidup, meski kadang suka salah kaprah. Contohnya ya ibu penjual telur abang tadi.
Kami bergegas pulang, tapi ponakan saya tetap ngotot, “aunty, beli telur di ibu yang duduk di pinggir dinding itu lho, kasihan udah tua”. Saya lihat, seorang perempuan tua, yang melindungi tubuhnya bersama barang dagangannya dengan plastic putih transparan, plastic itu benar-benar basah, tapi ia tetap saja menyusun telur, tanpa tahu buat apa, kami beli saja telut merah utuk kali kedua. Begitu naik taksi, ponakan saya nylethuk, “besok kalau ke sekaten, aku ga mau main, Cuma beli aromanis, ngasih uang ibu-ibu tua tadi, terus beli nasi gurih dan aromanis.” Buat saya, itu kabar gembira dari langit, apalagi dia kembali mengulang keinsyafan itu begitu kami masuk pintu rumah. Jogja selalu hujan di malam hari juga saat siang, setidaknya semenjak 2 hari lalu saya tiba di Jogja, sugeng rawuh Jogja..

Read More......

Selasa, 11 Maret 2008

Poengoetan Oeang Masoek Sekaten (1925)

Lebih dari 1 bulan yang lalu, saya menemukan artikel menarik, tentu saja menarik versi saya atau barangkali juga masyarakat Yogyakarta, tempat berlangsungnya tradisi sekaten hingga kini. Mengapa sekaten?
Karena memang artikel ini bicara tentang sekaten di tahun 1925, tepatnya perkara pungutan uang masuk perayaan sekaten, yang semakin lestari sampai kini.
Berita ini, saya dapatkan dari surat kabar Bendera Islam, sewaktu menggumuli koran tua untuk penulisan kronik Indonesia 1925.

Bendera Islam, 10 Agustus 1925.
Atas ihtiar Sarekat Islam diadakan rapat protes pada 7 Agustus 1925 yang mengambil tempat di rumah Djajeng Parkosan, Ngabean. Dalam rapat ini hadir antara lain, CSI, Siong Boe Tiong Hwee, Muhammadiyah, Centraal Tiong Hwa, Wal-Fadjrie, komite penengah penghinaan, SI Garut dan Islamiyah. Sementara dari kalangan pers, datang meliput yakni, Penggoegah, Tjamboek, Bendera Islam, Sin Po, Sien Jiet Po, Warna Warta, Perniagaan, Djawa Tengah, Keng Po, Sien Bien, Hindia Braoe, Soeara Publik, Tjien Po, Pewarta Surabaya, Bintang Islam, Sri Djojo Bojo, dan Sedio Tomo.
Terlihat banyak penduduk termasuk masyarakat Tiong Hwa yang ikut menghadiri rapat ini, yakni sekitar 200 orang Tiong Hwa, karena kedatangan mereka dalam jumlah besar memang amat diharapkan. Rapat protes yang melibatkan penjagaan dari kepanduan SI dan Wal-Fadjrie ini dibuka oleh Soerjopranoto pada pukul 09.00, dan sesudah kaum muslim membaca al-Fatihah dan pemeluk agama lain dipersilahkan berdoa sesuai keyakinannya masing-masing, Soerjopranoto lantas menyampaikan maksus diadakannya rapat ini,
1. Ajakan persatuan dan persaudaraan antar manusia.
2. Melahirkan protes perihal keberatan mereka seputar tindasan pajak, rencana hendak memungut entrée (uang masuk) dalam keramaian sekaten, dan pencabutan hak berkumpul di Semarang.
Mereka yang tampil berpidato pada rapat ini yaitu, H.M. Soedja yang bicara tentang persatuan dan persaudaraan antar manusia.OS Tjokroaminoto berpidato tentang mono humanisme (persatuan manusia) juga sikap SI pada persatuan manusia atau nasionalisme dan patriotisme. Giliran pembicara berikutnya ialah Soerjopranoto yang membahas perkara pajak, bahwa selain 2 jenis pajak baik langsung (dibayar langsung pada negeri) dan tidak langsung, kini ada lagi ditambah yakni, “pajaknya pajak”, yang disebut juga opcenten de belastingen.
Dan di Yogyakarta telah mulai ada opcent (kenaikan pajak menurut presentase) dari pajak ini dan itu, serta ada juga pajak tak langsung yang halus sekali alias tak kentara: pungutan uang masuk ke tempat perayaan sekaten. Lantas diusulkan agar meminta utusan SI Yogyakarta untuk bertemu residen mempermaklumkan keberatan itu, apalagi rakyat Hindia telah membayar aneka rupa pajak, meski kesusahan berlipat-lipat.

Ada lagi artikel lain dalam Hindia Baroe (metamorfosa surat kabar Neratja) yang, lagi-lagi memberitakan perkara yang sama: pungutan entree (uang masuk) dalam perayaan sekaten. Hanya saja dengan argumentasi lain, ia bilang, acara sekaten bukan acara komersil, acara ini adalah acara budaya sekaligus acara keagamaan. Bagaimana bisa pemerintah justru hendak menarik uang masuk, yang berarti telah merubah maksud acara menjadi acara komersil.
Orang-orang Jogja dari manapun termasuk mereka yang tinggal di desa-desa dan jauh dari kota selalu berduyun-duyun mendatangi sekaten, bukan apa, mereka datang ke perayaan tahunan ini, sebagai warisan tradisi dari sesepuh mereka, dan tiadanya uang masuk sekaten selama ini, mereka maknai sebagai rasa welas asih sang raja Jogja. Bisa dibayangkan, apa baka mereka bilang juga pikirkan?

Artikel ini bagus juga menangkap makna intrinsik perayaan sekaten, dan denagn jitu digunakannya sebagai dalih menolak pungutan uang masuk sekaten. Tapi artikel ini membuat saya nyinyir, karena pungutan uang masuk sekaten yang lestari hingga sekarang dan terus merangkak naik, adakah yang pernah mempertanyakan?

Entah esok atau lusa saya bakal hengkang dari Jakarta menuju Jogja, kota yang membuat saya tertawan pada rindu. Adik perempuan saya yang masih duduk di kelas 6 SD sudah sedari pekan-pekan kemarin menagih kedatangan saya ke Jogja untuk menemaninya ke sekaten sebagaimana biasa. Tapi sudah beberapa tahun ini,saya selalu mendatangi sekaten di pekan terakhir perayaan. Bila bukan karena mengantar adik, saya takkan mampir ke ruang pameran atau memilih permainan pasar malam. Karena bukan itu yang memesona, saya lebih suka pergi ke depan masjid besar, makan nasi gurih, membeli telur dari perempuan tua, menyaksikan gamelan bertalu, dan melihat seorang perempuan alias muballighah Aisjijah mengisi pengajian malam juga di depan masjid besar.
Untuk yang saya sebut terakhir ini,ternyata adalah tradisi tua,yang saya temukan juga dalam kronik saya. Karena dahulu, Muhammadiyah selalu punya rangkaianagenda menyambut maulud nabi terutama lewat perayaan sekaten. Macam-macam acaranya, termasuk bagian Taman Pustaka Muhammadiyah yang punya stan dalam pameran. Entah, sepertinya tak semua acara itu, masih ada sampai sekarang,termasuk bahwa Muhammadiyah merasa sangat perlu untuk membuat aneka kegiatan, karena banyak sekali poin kegiatan yang dahulu digelarnya.
Kembali soal sekaten, hanya saja sekarang tak hanya penjaja nasi gurih yang ada,tetapi juga pedagang bakso dan mie ayam, yang memakan banyak space juga di depan masjid. Tetapi tetap saja saya akan menyambangi depan masjid itu, dan makan nasi gurih, tentu sambil mengajak adik saya, jangan sampai dia hanya mengenal permainan-permainan yang ditawarkan pasar malam, tapi dia perlu diajak juga merasai khidmatnya perayaan sekaten, bersama orang-orang desa yang masih saja berduyun, bergerombol naik truk dan memarkirnya di terminal Serangan guna merasai welas asih sang raja, dan mendengar hikmah maulud. Bagaimana dengan anda?

Read More......

Minggu, 03 Februari 2008

Kata Per(empoe)an

Ini sekadar tulisan tentang penggunaan kata wanita, perempoean, kaum isteri, ataupun kaum iboe.
Keempat kata itu sama-sama merujuk pada makhluk yang diberi karunia organ reproduksi, dan masing-masing dari keempat kata itu pernah mengalami masa jaya. Saya, selaku perempuan yang baru berusia seper-empat abad, alias belum sampai 3 dekade saya hidup, tentu lebih mengenali kata wanita terlebih dahulu tinimbang mengenal kata perempuan dalam kosakata sehari-hari. Maklum saja, kebanyakan perempuan Indonesia memang sempat terlalu lama mengakrabi kata "wanita", terutama semasa Ibu Tien, perempuan berdarah Mangkoenegaran itu menjadi ibu negara. Usut punya usut, kata wanita memang kait mengait dengan mereka yang tergolong perempuan priyayi. Nah tentang ini, tentu saja mesti dituliskan pada posting-an yang lain.
Lantas begitu orde baru tumbang, nama-nama organisasi perempuan yang dahulu banyak menggunakan kata wanita (ini terutama berlaku pada organisasi yang berafiliasi dengan pemerintah) mulai berganti lidah dan berubah kata menjadi perempuan. Mereka yang mengidentifikasi pikirannya dengan ide bahwa makhluk beralat kelamin vagina ini layak bersetara ria dengan para lelaki, tentu saja memilih menggunakan kata perempuan, dan merasai kelu pada lidahnya bila mesti menyebut kaumnya dengan kata wanita. Sebaliknya, mereka yang mengidentifikasi dirinya selaku barisan anti kesetaraan akan merasa berdosa bila ikut-ikutan menyebut kata perempuan, mereka serasa takut dilaknat Tuhan.
Masing-masing penganut dua kata ini, tentu telah menyusun argumen untuk mengukuhkan pendiriannya, termasuk pengguna kata perempuan. Nah, bukan kebetulan bila peristiwa monumental yang diaku dalam pergerakan perempuan Indonesia ialah perhelatan yang diberi nama Kongres Perempuan Indonesia dan bukan Kongres Wanita Indonesia. Ketika itu orang lebih mengakrabi kata perempuan ketimbang kata wanita, bahkan kata kaum isteri maupun kata kaum ibu jauh lebih populer daripada kata wanita.
Buka saja dokumen-dokumen sejarah maupun koran-koran tua kisaran masa pergerakan nasional. Anda akan mendapati ketiga kata itu(perempuan, kaum ibu, kaum istri) lebih sering dikenakan daripada kata wanita. Coba anda perhatikan juga nama-nama organisasi perempuan masa pergerakan. Tak banyak yang mengunakan kata wanita, setidaknya tidak lebih banyak daripada nama-nama perkumpulan yang menggunakan kata perempuan, isteri, iboe, maupun poetri.
Yang kebetulan justru, bahwa saya menemukan tulisan perihal arti kata perempuan dan implikasi arti kata perempuan bagi kaum ibu Indonesia. Tulisan itu dimuat dalam surat kabar Njala, organ milik pengurus besar PKI, tertanggal 9 November 1925.
Saya persilahkan anda menyimaknya:
Perempoean, asal katanya empoe, yang mendapat awalan per- dan akhiran -an. Empoe berarti Toean, ketua, pemberi nasehat, petunjuk, penolong atau pendek kata suatu kedudukan yang mesti dihormati.
Empoe dalam bahasa Jawa berarti tukang bikin keris dan tidak sembarang orang bisa melakukannya karena mesti berilmu tinggi dan berhati suci. Empu berarti nama dari suatu pangkat yang besar dan mulia yang terdapat dari perbuatannya.
Awalan per- dan akhiran -an menerangkan suatu perbuatan, misal bantah-perbantahan, berarti nama dari perbuatan bantah-bantahan. Perempoean ialah nama dari perbuatan empu baik itu penolong, pemberi nasehat, dan penuntun. Perempoean berarti nama angkat yang harus dihormati dan dimuliakan karena perbuatannya. Lantas perbuatan apa yang harus dilakukan perempuan agar bersesuaian dengan arti kata empoe? Maka sekalian ibu mesti memberi tuntunan pada anak-anak supaya:
1. Mengetahui harga dirinya.
2. Tidak merongkong-rongkong dan menyembah-nyembah seperti budak belian.
3. Mendidik anak-anak kita supaya punya darah satria.
4. Mendidik anak-anaknya supaya cinta tanah tumpah darah, bangsa dan sesama hidup.
5. Memberi tahu anaknya apa rasanya orang tertindas, dan membangunkan hati mereka agar punya keberanian hati menuntut hak sebagai manusia.
6. bangunkan hati mereka, supaya jangan lembek hati, dan menyerahkan nasib pada orang lain.
Apa komentar anda membaca tulisan yang telah dipublikasikan 82 tahun yang lalu?

Read More......

Selasa, 15 Januari 2008

Teks Agama

Tiga minggu sebelum ujian sampai hari ini, saya mulai lagi sering ke masjid dan sedikit banyak mewarnai waktu dengan aktivitas di masjid.. saya sedang mengurus pengajian anak di masjid, ternyata saya memang menyukai dunia anak-anak.. hehe. sewaktu masih di ekspresi, saya tetap meluangkan waktu mengurus pengajian anak sebagai refreshing..

Saya mulai membuat perpustakaan anak, baik di masjid atau di langgar. Saya ingin masjid tidak saja identik dengan aktifitas ritual tetapi juga identik dengan belajar.. lumayan, anak-anak rata-rata sudah mau baca buku sampai beberapa hilang (hehe) biar tak sekadar kenal televisi dan PS.

Lomba anak-anak juga tidak identik denagn lomba sholat, adzan, menghafal surat tetapi juga lomba menulis dan membaca puisi.
tetapi akhir-akhir ini, saya sedikit gusar. Apa pasal? lagi-lagi saya bertemu dengan orang yang terlampau tekstual menghadapi teks agama, yang percaya saja pada isi teks selama itu buku dikarang ulama besar tanpa mencoba melihat pendapat lain yang berbeda. Kebanyakan orang-orang tekstual keras kepala, matanglah sudah..

Begini kisahnya, mulanya saya menjadwal materi hari ahad adalah materi bebas. Bisa menulis, bermain, bernyanyi, menonton film dan apa saja yang menyenangkan. Panitia remaja yang rata-rata masih abg ingin mengisi materi lewat menyanyi. Mereka puya bekal alat musik seperti gitar dan ketipung. Ku pikir bercanda, Edi, seseorang yang mengaku ingin menerapkan pola Islam (ala siapa?), bilang menyanyi tidak boleh. Itu disampaikannya pada Romi, panitia yang masih duduk kelas 2 SMP dan suka nge-band. Saya bilang, menyanyi itu boleh, ahad besok Romi saya bilang agar tetap tampil.

Satu hari setelahnya, Romi menyerahkan kertas, katanya titipan dari Edi untuk saya. Saya baca, ternyata dia menulis argumen-argumen mengapa menyanyi dihukumi haram, apalagi pakai gitar dan ketipung, saya mah cuma bisa cengengesan. "Gimana mbak", kata Romi seperti ikut gusar. "Ga papa, kalian tetap ngisi ya besok ahad." Saya penasaran juga dengan argumen Edi, saya memang pernah mendengar ada ulama yang mengharamkan, lalu saya tanya pada ibu. Ibu sedikit menjelaskan, nyanyi hukumnya mubah, berarti boleh asal tidak keluar kaidahlah. Tetapi saya masih juga penasaran dengan ayat dalam surat luqman yang ia pakai untuk menjustifikasi larangan menyanyi. saya buka tafsir maraghi yang kebetulan ibu mengkoleksi. Ternyata walah ternyata, itu surat memang mengindikasikan larangan menyanyi, tetapi asbabun nuzulnya bisa membuat kita lebih arif menyimpulkan hukum menyanyi.

Lain hari, saya melihat tempelan di papan pengumuman masjid. Kebetulan satu hari pasca ujian alias 3 hari puasa saya dapat mens, jadi saya tidak intens ke masjid kecuali sore. Saya dapati tiga lembar kertas ditempel memanjang berjudul "bahayanya perempuan bagi laki-laki" lalu satu lembar tulisan "hukum wanita tidak berjilbab".. waduw.. serem amit itu tulisan.. isinya seputar neraka.. yang terbayang dalam pikiran saya cuma para ulama klasik yang memang menempatkan perempuan sangat-sangat terpinggir.. layaknya bakteri yang siap merusak kekebalan tubuh manusia... rada reaktif juga nih, kontan saya copot tu kertas dan saya pindahin ke ruang sekretrariat..
waduw dah sore, saya terlalu lama di warnet.. musti hengkang.. bersambung ya..

Read More......

Soewarni

sudah tiga hari lebih, aku selesai menuliskan Soewarni. dia kakak Soewarsih Djojopoespito, penulis novel "manusia bebas".
Beberapa kali aku menulis tentang perempuan masa pergerakan, pasti tidak luput menulis kata poligami. apalagi saat menuliskan Soewarni.
Ia paling getol menentang poligami sampai-sampai perlawanannya pada perilaku lelaki beristri lebih dari satu itu, saya jadikan fokus utama. Dia juga perempuan yang bertikai dengan Ratna Sari, gara-gara aktivis Permi itu berapi-api di atas podium seakan menghalalkan poligami. Ia juga terkenal tajam menyindir tingkah lelaki, dalam forum itu saja ia mengatai laki-laki seperti ayam jago yang suka mengumpulkan perempuan.

Ee.. para lelaki yang duduk di belakang malah menanggapi dengan berseru pelan "kukuruyuk". Tentu saja, makin panaslah Soewarni.. (cerita tentang ini bisa didapatkan dalam biografi Maria Ulfah Santoso maupun Sujatin Kartowijono, atau cek langsung saja di koran-koran tahun 1935an. kata-kata "Lelaki seperti ayam jago" bahkan dipilih oleh Gadis Rasid menjadi sub judul dalam biografi Maria Ulfah Santoso yang ia tulis.

Soewarni juga perempuan pendiri organisasi Istri Sedar yang dikenal sebagai organisasi perempuan radikal awal tahun 1930-an, sayang tulisan tentang Soewarni atau Istri Sedar tidak banyak ditulis. Saya sendiri mengumpulkan dari tulisan yang tercecer, majalah Sedar (1930-an), dan tulisan E. Du Perron yang sempat datang pada konggres Istri Sedar. .
Tetapi begitu tulisan tuntas, saya puas, karena menulis tentang seseorang yang jarang tertulis..

Read More......

S(urastri) K(arma) Trimurti

sore ini tulisan tentang Surastri Karma Trimurti alias SK Trimurti selesai sudah.
Perempuan kelahiran boyolali ini telah merasai kejahatan fisik utawa kejahatan mental yang diberikan penjara secara cuma-cuma. Tubuhnya pernah ringsek disiksa kejam oleh Nedaci, seorang kenpeitai.

Tetapi di penjara Jurnatan, Semarang, tempat penyiksaan Trimurti berlangsung, Nedaci justru menyuguhkan sisi lainnya yang paling manusiawi. Karena di tempat itu ia berterus terang bahwa ia mencintai Sukapti, adik Trimurti.

Tetapi Trimurti juga berhak berterus terang tntg rasa yang paling manusiawi dari seorang tahanan yang dipukul sampai tak lagi mampu merasai sakit dari tubuhnya yang lebam. Tentu saja ia tolak mentah permintaan Nedaci untuk mengawini sah adiknya. Karena mengamini lamaran berarti meruntuhnya harga diri Trimurti, perangkat diri yang tersisa dari seorang tawanan.

S.K. Trimurti memang tak hanya dikenal sebagai tawanan, tetapi juga seorang jurnalis yang membuatnya berkenalan untuk kali pertama dengan terali besi. Ia sempat juga menjadi menteri perburuhan kabinet pimpinan perdana menteri Amir Syarifuddin. Sayang, usia kementriannya hanya berlaku tujuh bulan. karena Amir harus serahkan mandat pada bung Karno, yang menunjuk setelahnya seorang Hatta sebagai formatir kabinet.

Tetapi hikayat Trimurti dalam tahanan lebih "basah" untuk ditulis. Terakhir kali ia meringkuk dalam tahanan, gara-gara nasib apesnya yang dituding terlibat dalam peristiwa Madiun. ia sempat ditaruh dalam ruang, dan tidur di atas meja tulis kecil. yang membuatnya tidak bisa tidur, bukan saja perkara kecilnya meja, tetapi juga ujung bayonet prajurit yang sering mampir di kamarnya dan ditudingkan tepat di depan mukanya, sembari dikatai penghianatlah, atau sesekali diludahi meski tak mengenai mukanya.

Trimurti memang tak saja harus mendekam dalam bui selama masa kolonial, entah itu Belanda utawa Jepang. Tetapi ia harus pula meringkuk dalam penjara sesudah kemerdekaan diproklamasikan, momen paling historis kepunyaan negeri ini, yang ia tunggu dengan jantung berdegup. Trimurti tidak saja menunggu, tapi ia juga menyaksikannya dari pegangsaan timur no 56..

Read More......

Bahasa (katanya) ilmiah skripsi

lama tidak menulis dengan bebas.. karena apa? karena saya sedang dilumat menulis skripsi. penulisan skripsi yang katanya musti menggunakan ejaan yang disempurnakan, tata tulis, juga bahasa yang ilmiah. Apa kriteria ilmiah, metode penelitian bukan? mengapa tulisan saya tiba-tiba dikatakan tidak ilmiah hanya karena bahasanya dianggap tidak ilmiah. pantas, karya ilmiah tak banyak dibaca orang (kecuali mahasiswa yang sedang mencontek bahasan untuk tugas dan mahasiswa yang sedang akan skripsi).

Skripsi banyak teronggrok di rak-rak perpustakaan, mulai perpustakaan jurusan, fakultas sampai perpus univ. jangan-jangan salah satu faktornya ialah karena skripsi tak enak dibaca. orang yang mengaku sok akademis berdalih, "yah.. karena itu konsumsi orang akademis." Alah, apa seh guna bahasa? fungsi esensial bahasa menjadi tidak maksimal karena terkungkung aturan bahasa yang dikategorikan ilmiah. walah-walah..

Read More......